Apakah artinya hidup kita tanpa
sebuah harapan akan sesuatu dimasa depan? Apalah arti hidup ini bagi seseorang
yang sudah tidak punya pengharapan? Pengarapan adalah kata ajaib sesungguhnya.
Kata ini dapat memberikan kekuatan dan kebahagian kepada banyak orang dalam
segala sesuatu. Namun demikian kerinduan dan pengharapan tiap-tiap orang
berbeda-beda. Waktu kecil dulu, kuingat
pengharapan terbesarku adalah dapat uang jajan setiap hari Minggu. Waktu itu
zaman masih susah, ekonomi tidak jalan. Setidaknya itu yang kurasa dan kunilai
dalam persfektif sekarang. Setelah remaja dan pemuda bertemu dengan pacar
adalah kerinduan yang membahagiakan sekaligus menyiksa. Berharap dapat lihat
wajahnya, itu sudah lebih dari cukup. Kalau orangtua mungkin pengharapan
terbesarnya adalah melihat anak-anak bertumbuh sehat, berrhasil sekolah,
menikah dan punya cucu. Orangtua memiliki harapan besar bagi anak-anaknya untuk
bisa membuat mereka senang di masa tua.
Namun dari sudut pandang Alkitab,
pengharapan terbesar semua manusia bahkan alam semesta adalah bila waktu
pernikahan antara anak domba (Yesus Kristus) dan tunanganNya (pengikutnya)
telah tiba. Hal ini jelas terlihat dalam buku wahyu, kitab terakhir dari
Alkitab. Ternyata TUHAN rindu dan berharap bertemu dengan tunannganNya, yaitu
gereja. Gereja itu dilambangkan dengan perempuan suci. Itu sebabnya dalam Alkitab, gereja bukanlah
berbicara tentang organisasi atau tentang bangunan gedung, tetapi sekumpulan
orang-orang yang percaya kepada penebusan Kristus. Percaya kepada Dia sebagai
Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menjadi Juruselamat. Percaya kepada
darahNya yang tertumpah di Golgota, di kayu salib demi manusia yang telah jatuh
dalam dosa. Perempuan suci berarti bahwa mereka harus memiliki tabiat yang suci
dihadapan Allah.
Namun sayangnya rencana pernikahan
Allah dengan tunanganNya tidak diketahui oleh semua manusia, bahkan diantara
mereka yang mengaku sebagai Kristen pun. Entah karena apa! Aku teringat, beberapa
tahun lalu ketika sedang berkunjung ke
rumah teman di Sumatera Utara. Seorang ibu bertanya kepadaku, “benarkah Yesus
akan datang lagi, adakah tertulis dalam Alkitab”?. Padahal ibu itu sudah puluhan
tahun jadi Kristen. Lalu kujawab, “kedatangan Yesus kembali kedunia ini
bukanlah ajaran manusia atau para pendeta”, seraya kutunjukkan banyak kutipan dan ayat
yang menggambarkan betapa thema ini sangat sentral. “Yesuslah sendiri yang mengatakannya dan malaikat-malaikat
juga bersaksi ketika Yesus naik kembali ke sorga setelah menyelesaikan misiNya
di dunia ini”. Demikian aku berusaha menerangkan. Akhirnya iman dan
pengharapannya bertumbuh. Ia merasakan kebahagian. Hidupnya jadi tambah
semangat, walau kekuatan tubuhnya makin lemah.
Yohanes murid kekasih, telah menuliskan dalam kitab
Wahyu pasal 19:4,6-10, bahwa akan tiba bilamana sekumpulan orang yang tidak
terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan segala zaman duduk bersama dalam
jamuan pernikahan Anak Domba, yaitu Yesus Kristus. Suatu pesta sekaligus pertemuan besar yang telah sangat lama
dinanti-nantikan segenap penghuni alam semesta.
Sebelum pesta itu, kejadian yang
mendahului adalah Yesus datang di awan-awan. Tetapi kedatangan Yesus yang kedua
kali ini tidaklah secara diam-diam. Kalau pada kedatangan pertama hanya
beberapa yang tahu, karena memang mereka memberi perhatian dan menanti janji kedatangan Mesias, dimana selain Yusuf
dan Maria ada gembala-gembala domba serta orang-orang majus dari timur.
Kedatangan kali ini benar-benar berbeda. Matius mencatat kata-kataNya dalam
kitabnya pasal 24:30, bahwa Ia datang dengan segala kemuliaan sorga, diiringi
oleh semua malaikat sorga dan disertai dengan bunyi sangkala. Yohanes yang
kekasih mencatat dalam kitab Wahyu pasal 1:7, bahwa semua mata akan memandang.
Jadi adalah tidak benar kalau ada yang berkata Yesus telah datang di suatu
tempat tertentu.
Sesungguhnya hari itu adalah hari
yang sangat kontradiksi bagi dua golongan. Golongan pertama adalah orang-orang
yang senantiasa bergumul dengan imannya, menanti dan berharap. Nubuatan
mencatat bahwa mereka diejek, difitnah, didera bahkan ada yang dibunuh karena
mempertahankan keyakinannya hanya semata-mata kepada Kristus. Bagi mereka hari
ini adalah hari kesuakaan, hari yang dinanti-nantikan. Menunggu ucapan merdu
dari Kristus, “masuklah hai hambaku yang setiawan”. Sementara bagi
mereka-mereka yang selama hidup melecehkan pekabaran tentang Yesus dan
kedatantanNya, mereka yang cuek, mereka yang secara sadar menolak bahkan
mungkin ikut mengejek, wahyu 6:16, mencatat bahwa mereka akan meratap dan
menyesali tapi tiada guna.
Anak-anak
Tuhan akan dibawa untuk masuk kepada kemuliaan Allah, ikut dalam jamuan Anak
Domba. Mereka bertemu dengan makhluk-makhluk sorga yang tidak pernah jatuh
dalam dosa. Mereka akan saling bercerita tentang pengalaman masing-masing.
Inilah pengharapan terbesar alam semesta. Inilah sebuah kebenaran abadi dari
kekekalan sampai kekekalan.
No comments:
Post a Comment